Reduksi Pesta Babi dan Ironi Dokumenter Papua dalam Perspektif Anti-Kolonial

Opini 17 May 2026 11:15 3 min read 153 views By Deny Gutawan

Share berita ini

Reduksi Pesta Babi dan Ironi Dokumenter Papua dalam Perspektif Anti-Kolonial
Belakangan ini, sejumlah film dokumenter yang mengangkat isu Papua menuai perhatian publik karena dianggap menghadirkan keberpihakan terhadap masyarakat adat. Namun di balik semangat membela rakyat kecil tersebut, muncul kritik bahwa sebagian karya justru masih terjebak dalam cara pandang kolonial. Perspektif yang digunakan para pembuat film dari luar Papua dinilai belum sepenuhnya memberi ruang bagi masyarakat adat untuk mendefinisikan dirinya sendiri. Kebudayaan Papua masih dibaca menggunakan standar dan logika masyarakat urban, terutama dari sudut pandang Jakarta.

Belakangan ini, sejumlah film dokumenter yang mengangkat isu Papua menuai perhatian publik karena dianggap menghadirkan keberpihakan terhadap masyarakat adat. Namun di balik semangat membela rakyat kecil tersebut, muncul kritik bahwa sebagian karya justru masih terjebak dalam cara pandang kolonial. Perspektif yang digunakan para pembuat film dari luar Papua dinilai belum sepenuhnya memberi ruang bagi masyarakat adat untuk mendefinisikan dirinya sendiri. Kebudayaan Papua masih dibaca menggunakan standar dan logika masyarakat urban, terutama dari sudut pandang Jakarta.

 

Akibatnya, banyak tradisi lokal yang mengalami penyederhanaan makna demi menyesuaikan pesan politik yang ingin disampaikan kepada audiens nasional. Salah satu contoh paling menonjol terlihat pada penggambaran tradisi Pesta Babi. Dalam dokumenter tersebut, tradisi ini cenderung diposisikan hanya sebagai simbol perlawanan politik atau kritik terhadap negara. Padahal bagi masyarakat adat Papua, khususnya Suku Marind, Pesta Babi memiliki dimensi sosial dan spiritual yang jauh lebih kompleks.

 

Tradisi tersebut bukan sekadar seremoni biasa, melainkan bagian penting dari kehidupan komunal masyarakat adat. Pesta Babi menjadi sarana redistribusi kesejahteraan, media rekonsiliasi antarwarga, hingga bentuk penghormatan terhadap hubungan manusia dengan alam. Ketika makna yang begitu dalam direduksi hanya menjadi alat narasi politik, maka kebudayaan Papua kehilangan konteks aslinya dan berubah menjadi sekadar simbol yang mudah dikonsumsi penonton luar.

 

Kritik serupa juga muncul terhadap penggunaan bahasa dalam dokumenter tersebut. Narasi yang menyamakan fungsi hutan bagi masyarakat Awyu dengan “supermarket” dianggap sebagai bentuk apropriasi makna yang problematis. Analogi itu dinilai memaksakan cara berpikir modern dan kapitalistik ke dalam ruang hidup masyarakat adat. Bagi masyarakat Papua, hutan bukan hanya tempat mengambil sumber daya, melainkan bagian dari identitas, ruang spiritual, serta simbol kehidupan yang wajib dijaga dan dihormati.

 

Persoalan yang lebih mendasar adalah hilangnya otonomi masyarakat Papua dalam menceritakan kebudayaan mereka sendiri. Dokumenter yang seharusnya menjadi medium bagi suara masyarakat adat justru lebih banyak didominasi interpretasi narator dari luar Papua. Situasi ini membuat pengalaman dan budaya lokal seolah diarahkan mengikuti selera emosional penonton nasional agar menghasilkan simpati yang lebih dramatis.

 

Ketika suara masyarakat adat dibingkai dan disesuaikan dengan kebutuhan narasi pihak luar, maka posisi mereka kembali berubah menjadi objek representasi. Dalam kondisi seperti itu, film dokumenter tidak lagi berfungsi sebagai alat pembebasan, melainkan berpotensi menjadi sarana eksploitasi budaya dengan kemasan aktivisme sosial.

 

Ironisnya, karya yang mengklaim diri berpihak pada gerakan anti-kolonial justru tanpa sadar mereproduksi pola pikir kolonial itu sendiri. Cara pandang yang mendikte makna budaya lokal dan memaksakan interpretasi dari luar menunjukkan bahwa relasi kuasa lama masih terus berlangsung, hanya dalam bentuk yang lebih modern.

 

Pada akhirnya, kritik terhadap dokumenter ini bukan sekadar soal teknis perfilman, melainkan tentang hak masyarakat Papua untuk menentukan sendiri bagaimana budaya, tradisi, dan ruang hidup mereka dipahami. Tanpa memberikan ruang penuh bagi masyarakat adat untuk menjadi subjek utama dalam narasi mereka sendiri, upaya pembelaan apa pun berisiko kembali jatuh pada praktik lama: berbicara atas nama Papua, tanpa benar-benar mendengarkan Papua.

STARAPOS